Jumat, 31 Agustus 2012

TEKNIK PENGAJIRAN PADA TANAMAN KARET (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.) : Zamzami (05091007059)


LAPORAN TETAP PRAKTIKUM PENGELOLAAN PERKEBUNAN KARET 

A.    Waktu dan Tempat
     Pelaksanaan Praktikum yang berjudul Pengajiran Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.) ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 18 Oktober 2011 di Lahan Karet 100 Ha Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.

B.     Alat dan Bahan
Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pengajiran karet adalah: 1) Kayu Ajir 100 buah, 2) Meteran, 3) Kompas, dan 4) lahan Ajir ( blok B)

C.    Cara Kerja

Adapun cara kerja pada saat pengajiran yaitu: 1) mula – mula tentukan terlebih dahulu jarak tanam yang akan di pakai yakni 4m x 5m, 2) selanjutnya dibuat pula ajir- ajir utama ( ajir pokok ) kea rah timur, barat, utara, dan selatan masing – masing 1 buah ajir utama sesuai dengan jarak tanam yang dipakai, 3) kemudian diikuti dengan pembuatan ajir ke arah selatan dan ke arah timur, 4) pada tiap – tiap titik jarak tanam di pasanglah kayu ajir, 5) untuk membantu agar pola ajiran tersebut lurus maka digunakan kompas

HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Adapun hasil pengajiran yang di lakukan adalah sebagaiberikut: Posisi pengajiran Jumlah Ajiran Utara – Selatan adalah 14 Barat – Timur 20 Total Ajir 34 Dengan lokasi Pengajiran pada lahan karet bagian belakang Unsri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di gambar berikut ini. 
B.    Pembahasan
Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya peningkatan produktifitas usaha tani karet terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya. .
Pada dasarnya sebelum kita melakukan pengajiran, hendaknya kita terlebih dahulu mengetahui waktu tanam yang baik ketika ingin memulai proses budidaya tanaman karet, Penanaman bibit tanaman harus memilih waktu yang tepat dan pengelolaan lahan tanam dan jarak tanam yang baik agar terhindar dari tingginya angka kematian dilapangan. Waktu tanam yang tepat itu adalah awal musim hujan, hal ini untuk mencegah terjadinya banyak tanaman karet yang mati. Persiapan tanam sebaiknya selesai dilakukan satu bulan sebelum penanaman . kegiatan persiapan tanam terdiri dari Pengajiran ( jalur tanam & jarak tanam ) dan Pembuatan Lubang Tanam.
Kegiatan pengajiran ini dilaksanakan pada kebun karet percobaan 100 Ha yang telah terbakar. Seperti yang tampak pada hasil,  lokasi pengajiran kita dilakukan pada blok A. Pada dasarnya pengajiran dilakukan agar penanaman karet lurus, dengan lurusnya tanaman karet tersebut pertumbuahn dan produksi lateks dari karet jadi optimal. Selain itu juga jarak tanam karet juga mempengruhi produksi karet, jarak tanam yang dipakai dalam praktikum ini adalah 4x5m dengan 4m   merupakan sejajar dengan arah mata angin barat-timur dan 5m sejajar dengan arah mata angin utara-selatan, tujuan dari jarak tanam yang panjang  mengadap kearah matahari agar tanaman karet lebih bisa mendapatkan sinar matahri secara optimal.
Anwar (2001) dalam tulisannya yang berjudul Managemen dan Teknik budidaya Karet menyebutkan bahwa pada areal lahan yang relatif datar / landai (kemiringan antara 00 – 80) jarak tanam adalah 7 m x 3 m (= 476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur - Barat berjarak 7 m dan arah Utara - Selatan berjarak 3m. Sedangkan menurut Boerhendhy (2003), berdasarkan  kemiringan lahan teknik pemancangan ajir dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Lahan datar (kemiringan<10%) Pada lahan datar, kerapatan per hektar 550 pohon dengan jarak tanam 3 x 6 m. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat pemancangan ajir di antaranya : Arah barisan mengikuti arah mata angin . Apabila menggunakan jarak tanam 3 x 6 m,  maka ajir induk yang berjarak 6 m di tempatkan pada arah Utara-Selatan, sementara ajir anakan yang berjarak  tanam 3 m pada arah Timur-Barat . Ajir induk ditempatkan di tengah apabila lahannya luas dan diletakkan di pinggir apabila luasnya kurang dari satu hektar. 2. Lahan miring (kemiringan 10-25%).
Menurut Budi dalam bukunya Pembangunan Kebun Wanatani berbasis Karet Klonal Setelah pembukaan dan pengolahan tanah hingga layak dan siap ditanami karet, tahapan berikutnya yaitu pemancangan ajir dan pembuatan lubang tanam Pemancangan ajir bertujuan untuk : Mengatur jarak tanam di lapangan, mempermudah pembuatan lubang tanam, membantu agar bibit yang ditanam membentuk garis lurus, mempermudah pengelolaan dan pemeliharaan pada tanaman karet muda maupun yang telah menghasilkan. Pemancangan ajir disesuaikan dengan jarak tanam dan kerapatan yang diinginkan. Kerapatan tanaman karet berkisar antara 500-600 tanaman per hektar. Sementara itu, kerapatan dan variasi jarak tanam yang diterapkan di lapangan harus memperhatikan kondisi kemiringan lahannya.
Pemancangan ajir dilakukan sesuai pola kontur dengan mengikuti prinsip titik-titik pada ketinggian yang sama (Gambar 13b). Caranya: Menentukan ajir teras bersambung dengan menghubungkan titik yang mempunyai ketinggian yang sama di lapangan . Ajir teras digunakan untuk ajir dengan jarak tanam 3 m . Jarak tanam 6 m ditentukan untuk jarak horizontal antar teras. Mengacu  pada pernyataan – pernyataan diatas, lokasi pengajiran dapat dikategorikan  pada areal yang kemiringannya tidak lebih dari 80 atau kurang dari 10%, oleh karenanya pola mengajirpun membentuk garis lurus atau yang juga sering disebut dengan pola-pola pagar. Akan tetapi, jarak tanam yang digunakan dalam percobaan pengajiran ini adalah 4 m x 5 m. Sebab, pada lahan tersebut masih ada sisa sisa tanaman karet dengan jarak tanam 6m x 3m, jadi apabila menggunakan jarak tanam ini atau jarak tanam 7m x 3m maka ilmu dari teknik pengajiran sendiri tidaklah praktikan peroleh sebab dapat dengan mudah saja mengikuti pola yang sudah ada. Dari beberapa jarak tanam yang telah disebutkan, selalu saja posisi yang mengarah pada utara – selatan adalah posisi dengan jarak tanam yang lebih lebar atau lebih panjang dari jarak tanam antara timur – barat. Setelah dilakukan studi literature, ternyata bibit karet mampu berakar dengan baik kalau mendapatkan IC 50% (Anonim, 2011). Artinya, dengan pola jarak tanam yang sedemikian rupa memang diatur untuk mendapatkan Intensitas Cahaya sebesar 50 %, selain itu seiring dengan pertumbuhan tanaman karet maka tajuk tanaman akan saling menutupi sehingga dengan jarak Utara – Selatan yang lebih lebar atau lebih panjang adalah penyiasatan supaya cahaya matahari dapat menembus hingga ke lorong-lorong tanaman. Selain itu, Tekanan cahaya bisa menimbulkan respon fisiologis (dalam aktivitas fotosintesis) maupun respon morfologis (berubahnya ukuran daun dll), Tinggi tanaman lebih cepat naik di tempat teduh, diameter tanaman lebih cepat naik di tempat tanpa naungan, sudut percabangan lebih besar ditempat ternaungi, luas daun lebih besar di tempat ternaungi, begitu juga dengan jumlah daun, akan tetapi kandungan klorofil lebih tinggi di tempat terang, ketebalan daun lebih tinggi di tempat terang (Anonim, 2011).
 Tentunya hal ini juga mempengaruhi pada aturan pola jarak tanam yang juga diterapkan pada tanaman karet. Selain itu juga, lahan tempat praktikan mengajir juga luasnya ± 33 Ha, artinya lebih dari 1 Ha. Pengambilan ajir induk memang mengikuti luasan 100 Ha yang artinya ajir – ajir induk diletakkan pada tengah-tengah lahan, dan seperti yang tampak di denah lokasi yang praktikan buat ada 1 ajir induk yang kebetulan letaknya di pinggir. Peletakan ajir – ajir induk di tengah atau di pinggir lahan (pada luasan seperti yang telah disebutkan) menurut keterangan yang praktikan peroleh dari asisten dan belum praktikan temui literature ilmiah yang menyebutkan alasannya adalah karena mengingat dari efisiensi penanaman karet itu sendiri. Jika pada lahan yang hanya 1 Ha kemudian ajir induk di letakkan pada tengah – tengah lahan, tentunya akan memubazirkan lahan pada tepian lahannya. Selama praktek mengajir, banyak hal – hal yang tidak sama dengan teori. Lahan yang praktikan dapatkan adalah blok A, secara kasat mata blok ini tidak dapat dikatakan lahan yang datar juga tidak dapat dikatakan lahan bergelombang sebab ketika dikatakan lahan datar ternyata ditemui juga lahan yang tidak datar ( bergelombang) dan begitupula sebaliknya.
Permasalahan lain yang diperoleh dalam praktek pengajiran ini adalah kayu ajir yang tidak sama jenisnya, praktikan sendiri menggunakan kayu ajir dari batang karet bekas terbakar yang dipotong seadanya. Tentunya hal ini menyulitkan proses pengajiran dimana tanah pada lokasi cukup keras. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah ketepatan letak pengajiran. Meskipun telah menggunakan kompas akan tetapi bila tingkat kesensitivan kompas jelek maka akan berpengaruh pula pada ketepatannya, apalagi bila yang menggunakan kompas belum mengerti bagaimana membaca petunjuk arah pada kompas. Hal remeh ini sangat penting untuk dipertahankan sebab kesalahan 10 saja akan berakibat perbedaan / kesalahan pengajiran 1 m. Hal lain yang praktikan peroleh dalam pengajiran ini adalah bagaimana cara untuk memperoleh ketepatan letak ajir tanpa menggunakan kompas ketika ajir ke arah utara - selatan dan timur – barat telah di pancang. Dari hal ini lah diperlukan teknik ketelitian dengan menggunakan pengelihatan melalui 2 titik ajir dengan asumsi apabila titik ajir tersebut tidak terlihat oleh mata berarti posisi ajir telah lurus dan begitu pula sebaliknya. Poin terpenting yang diperoleh adalah, apa yang dilakukan di lapangan tenyata tidak dapat disamakan hanya dengan teori – teori saja.

KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Penentuan jarak tanam yang pas menentukan produksi dari tanamn karet, dan juga penentuan arah mata angin dari tanaman karet juga menentukan pertumbuhan tanamn yang optimal.

B.     Saran
Sedikitnya waktu dalam praktikum teknik pengajiran membuat para praktikan tidak bisa optimal, padahal pengajiran merupakan langkah awal dalam pembudidyaan karet.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Pola jarak tanam. Diakses tanggal 11 Nopember 2011. http://www.=managemen+tanaman+karet
Anwar. 2001. Managemen Tanaman Karet. Sapta Bina Usahatani Karet  Rakyat. Balai Penelitian sembawa, Pusat Penelitian karet.
Budi dkk. 2008. Pembangunan Kebun Wanatani berbasis Karet Klonal. World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia Regional Office
Boerhendhy (2003). Teknik pemancangan ajir. Pembangunan Batang Bawah. Sapta Bina Usahatani Karet  Rakyat. Balai Penelitian sembawa, Pusat Penelitian Karet.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarlah yang bijak